Presiden Yang Paham Mata Uang

Selasa, 17 Juni 20140 komentar

BESTPROFIT FUTURES - Presiden Yang Paham Mata Uang


”Bagaimana cara menghancurkan sebuah negara dengan cepat?,” tanya dosen Aspek Keuangan Global di Magister Ekonomi Kebijakan Publik FE-UI, mengawali kuliah, pekan ini.Pernyataan itu disambut tujuh mahasiswa di ruang itu dengan memasang wajah serius. Lewat 5 menit belum ada yang menjawab, meskipun wajah menunjukkan ekspresi berpikir. Tidak jelas apa yang dipikirkan para mahasiswa itu.

Tanpa memberikan jawaban, sang dosan menggambar segitiga di papan tulis dan menulis tiga indikator makro ekonomi di setiap sudut segi tiga, yaitu suku bunga, inflasi, dan nilai tukar. Dia menggambar panah timbal balik di antara ketiganya sebagai penjelasan bahwa inflasi, suku bunga dan mata uang saling berpengaruh.

Inflasi adalah indikator paling populer karena berpengaruh sampai ke perut. Hampir tidak ada manusia di muka Bumi ini yang tidak terpengaruh oleh inflasi. Sementara itu, harga barang, tidak lepas dari nilai tukar. Jika inflasi naik, mata uang melemah, demikian sebaliknya.

“Kalau inflasi tinggi terus, bisa-bisa anak saya putus sekolah karena harga naik,” ujar Ratna, seorang ibu rumah tangga.“Bagaimana hubungannya dengan suku bunga? Suku bunga tidak dapat berbuat banyak. Suku bunga hanyalah gambaran atas ekspektasi inflasi pada masa mendatang,” ujar dosen itu.

Jadi, intinya terletak pada mata uang. Mengapa harga mata uang bisa naik turun?
Dia menjelaskan melemah atau menguatnya mata uang memang menjadi ancaman bagi perekonomian sebuah negara. Ancaman itu muncul sejak kebangkrutan sistem Bretton Woods, sistem moneter internasional (1947- 1971) yang mematok nilai tukar atas harga emas US$35 per ons.

Biaya pengendalian
Direktur Perencanaan Makro Kemeneng PPN/Bappenas Bambang Prijambodo mengatakan ancaman fluktuasi memang menyebabkan biaya pengendalian nilai tukar sangat besar.Selain tergantung arus barang dan arus modal, mata uang juga perlu dijaga dari spekulator. Kebijakan moneter bukan sekadar memangkas suku bunga, tetapi menyerap atau melempar uang asing di pasar.

Kehancuran Bretton Woods memicu penguatan dolar AS dan segelintir mata uang negara maju. Adapun negara lainnya terus berjuang mengatasi gejolak nilai tukar.

Eropa tidak mau tinggal diam. Di bawah komando Jerman dan Prancis, kawasan itu mulai menggunakan Euro, mata uang tunggal, pada 1 Januari 1999, setelah berkutat dengan berbagai kajian sejak 1957 atau pada saat dibentuknya European Economic Community melalui Perjanjian Roma.

Setelah itu, mata uang 16 negara yang tergabung dalam Euro Zone menguat, sejajar dengan dolar AS yang masih menguasai perdagangan dunia.

Di luar kelompok itu, dunia semakin bergantung pada dolar AS, apalagi uang menjadi komoditas, bukan sekadar alat pembayaran. Ibaratnya, dari US$91 miliar dolar AS yang beredar per hari, hanya US$1 miliar yang menjadi alat bayar. Selebihnya menjadi komoditas perdagangan.

Sebagai komoditas, uang internasional itu menyebabkan tekanan terhadap mata uang negara yang masih tergantung kepada dolar AS sangat tinggi. Pantas saja, jantung indikator ekonomi ini naik turun dalam hitungan detik, belum lagi ancaman spekulan yang dapat muncul setiap waktu.

“Semakin rendah harga mata uang di sebuah negara, semakin tidak penting dia di pasar internasional. Jika ini terjadi mata uang itu semakin rapuh atau ringkih,” jelas sang dosen.

Kalau begitu, mata uang sangat erat hubungannya dengan kedaulatan bangsa. Nah, para mahasiswa menjadi ragu, apakah benar fundamental ekonomi Indonesia kuat, seperti yang dikatakan pemerintah. Contohnya, cadangan devisa hanya dipersiapkan untuk membiayai ekspor selama 3 bulan, yaitu US$54,5 miliar sampai akhir Maret 2009.

“Maraknya spekulasi dapat menghantam mata uang domestik setiap saat sehingga jika ingin menghancurkan sebuah negara, tinggal menghancurkan saja mata uangnya,” ungkap seorang mahasiswa.

Matauang tunggal
Jadi, apa solusinya? Bagaimana dengan kerjasama pertukaran mata uang (Bilateral Swap Currency Arrangement/BSCA) Indonesia–Jepang, Korsel–China melalui Chiang Mai Initiative?

Bagaimana pula dengan Asean, bukankan target akhir kerja sama kawasan adalah membentuk Optimum Currency Are (OCA) yang diimplementasikan dengan mata uang tunggal?

BSCA hanya efektif dalam jangka pendek. Serangan terhadap mata uang akan terus berlanjut, karena dalam sejarah, kreativitas spekulator tidak pernah menurun. Ide menjadikan mata uang lokal sebagai mata uang internasional tidak mustahil, tetapi kapan?

Euro terbentuk lebih dari 50 tahun. Dolar AS pernah menguasai perdagangan dunia sampai 70% dan secara politik sangat kuat. Belum lagi persoalan kedaulatan. Membentuk sebuah mata uang tunggal di kawasan, sama saja menyerahkan sebagian kedaulatan negara untuk dikelola bersama, seperti negara pengguna euro.

Apakah ada cara yang lebih efektif?
Mengikuti cara Eropa, Asean telah membentuk Asean Economic Community (Masyarakat Ekonomi Asean/AEC) dalam Deklarasi Asean Concord II Bali pada 2003. Namun, sejauh ini justru kerja sama itu terlihat semakin jauh dan Asean tampaknya mulai menggali hubungan bilateral dengan negara di luar Asean.
Sang dosen menyatakan pembentukan mata uang tunggal tidak sekadar komitmen, teori, dan pengujian.

Kriteria paling penting adalah keinginan politik dari kepala negara. Perlu presiden yang memahami urgensi mata uang dalam menjaga kelangsungan sebuah negara. Mata uang tunggal tidak hanya membutuhkan ekonomi kuat, tetapi posisi politik sebuah negara itu di mata internasional. OCA memang tampaknya lebih rasional.

Namun, apakah calon-calon presiden, seperti Prabowo, dan Joko Widodo yang akan bertarung pada Pemilu 9 Juli 2014 memahami persoalan ini. Kalau begitu, dicari presiden yang paham mata uang?

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PT BESTPROFIT FUTURES PONTIANAK - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger